Sabtu, 08 Juni 2013

Definisi: 
Packet Filtering adalah mekanisme yang dapat memblokir packet-packet data jaringan yang dilakukan berdasarkan peraturan yang telah ditentukan. 
Packet Filtering umumnya digunakan untuk memblokir lalu-lintas yang mencurigakan yang datang dari alamat IP yang mencurigakan, nomor port TCP/UDP yang mencurigakan, jenis protokol aplikasi yang mencurigakan, dsb. 

Jenis: 


  1. Static Packet Filtering adalah jenis paket jenis filter yang diimplementasikan pada kebanyakan router, dimana modifikasi terdapat aturan-aturan filter yang harus dilakukan secara manual.
  2. Dynamic Packet Filtering adalah apabila proses-proses tertentu disisi luar jaringan dapat merubah aturan filter secara dinamis berdasarkan even-even tertentu yang diobservasi oleh router (sebagai contoh: paket FTP dari sisi luar dapat diijinkan apabila seseorang dari sisi dalam me-request sesi FTP)
IPTABLES 
Iptables adalah suatu tools dalam sistem operasi linux yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan filter (penyaringan) terhadap (trafic) lalulintas data. Secara sederhana digambarkan sebagai pengatur lalulintas data. Dengan iptables inilah kita akan mengatur semua lalulintas dalam komputer kita, baik yang masuk ke komputer, keluar dari komputer, ataupun traffic yang sekedar melewati komputer kita. 

Membahas prinsip dasar firewall iptables, mengelola akses internet berdasarkan alamat IP,port aplikasi dan MAC address. Firewall IPTables packet filtering memiliki tiga aturan (policy), yaitu:

INPUT 
Mengatur paket data yang memasuki firewall dari arah intranet maupun internet. kita bisa mengelola komputer mana saja yang bisa mengakses firewall. misal: hanya komputer IP 192.168.1.100 yang bisa SSHke firewall dan yang lain tidak boleh. 
OUTPUT 
Mengatur paket data yang keluar dari firewall ke arah intranet maupun internet. Biasanya output tidak diset,karena bisa membatasi kemampuan firewall itu sendiri. 
FORWARD 
Mengatur paket data yang melintasi firewall dari arah internet ke intranet maupun sebaliknya. Policy forward paling banyak dipakai saat ini untuk mengatur koneksi internet berdasarkan port, mac address dan alamat IP Selain aturan (policy) firewall iptables juga mempunyai parameter yang disebut dengan TARGET, yaitu status yang menentukkan koneksi di iptables diizinkan lewat atau tidak. 

TARGET ada tiga macam yaitu: 
ACCEPT 
Akses diterima dan diizinkan melewati firewall 
REJECT 
Akses ditolak, koneksi dari komputer klien yang melewati firewall langsung terputus, biasanya terdapatpesan “Connection Refused”. Target Reject tidak menghabiskan bandwidth internet karena akses langsung ditolak, hal ini berbeda dengan DROP. 
DROP 
Akses diterima tetapi paket data langsung dibuang oleh kernel, sehingga pengguna tidak mengetahui kalau koneksinya dibatasi oleh firewall, pengguna melihat seakan – akan server yang dihubungi mengalami permasalahan teknis. Pada koneksi internet yang sibuk dengan trafik tinggi Target Drop sebaiknya jangan digunakan. 

Berikut ini contoh penggunaan firewall iptables untuk mengelolak akses internet. 
Policy INPUT 
IP Firewall = 192.168.1.1 
IP Administrator = 192.168.1.100 
IP Umum = 192.168.1.200 

- Membatasi port number 

iptables -A INPUT -i eth1 -s 192.168.1.200 -d 192.168.1.1 -p tcp -dport 22-j REJECT

Contoh di atas melarang komputer klien dengan IP 192.168.1.200 mengakses port 22 (ssh) firewall yang memiliki IP 192.168.1.1 
Policy FORWARD 
- Membatasi orang mengakses port aplikasi P2P (Limewire, GnuTella & Bearshare)

iptables -A FORWARD -p tcp -dport 6340:6350 -j REJECT 

iptables -A FORWARD -p -dport 6340:6350 -j REJECT<

-p tcp (koneksi menggunakan protokol TCP) 
-p udp (koneksi menggunakan protokol UDP) 
-dport 6340:6350 (melarang akses port 6340 sampai dengan 6350) 

-Membatasi koneksi satu alamat IP 
iptables -A FORWARD -s 192.168.1.99 -d 0/0 -j REJECT< 
-d 0/0 berarti ke semua tujuan 

- Membatasi koneksi berdasarkan range IP

iptables -A FORWARD -m iprange -src-range 192.168.1.100-192.168.1.150 -d 0/0 -j REJECT 

- Membatasi koneksi internet berdasarkan MAC Address 

iptables -A FORWARD -m mac -mac-source 00:30:18:AC:14:41 -d 0/0 -j REJECT

Posted by Unknown On Sabtu, Juni 08, 2013 No comments READ FULL POST

Senin, 03 Juni 2013

Routing adalah proses pengiriman data maupun informasi dengan meneruskan paket data yang dikirim dari jaringan satu ke jaringan lainnya.

Konsep dasar routing
Bahwa dalam jaringan WAN kita sering mengenal yang namanya TCP/IP (Transmission Control Protocol/ Internet Protocol) sebagai alamat sehingga pengiriman paket data dapat sampai ke alamat yang dituju (host tujuan). TCP/IP membagi tugas masing-masingmulai dari penerimaan paket data sampai pengiriman paket data dalam sistem sehingga jika terjadi permasalahan dalam pengiriman paket data dapat dipecahkan dengan baik.

Berdasarkan pengiriman paket data routing dibedakan menjadi routing lansung dan routing tidak langsung.

  1. Routing langsung merupakan sebuah pengalamatan secara langsung menuju alamat tujuan tanpa melalui host lain. Contoh: sebuah komputer dengan alamat 192.168.1.2 mengirimkan data ke komputer dengan alamat 192.168.1.3
  2. Routing tidak langsung merupakan sebuah pengalamatan yang harus melalui alamat host lain sebelum menuju alamat hort tujuan. (contoh: komputer dengan alamat 192.168.1.2 mengirim data ke komputer dengan alamat 192.1681.3, akan tetapi sebelum menuju ke komputer dengan alamat 192.168.1.3, data dikirim terlebih dahulu melalui host dengan alamat 192.168.1.5 kemudian dilanjutkan ke alamat host tujuan.

Jenis Konfigurasi Routing

  1. Minimal Routing merupakan proses routing sederhana dan biasanya hanya pemakaian lokal saja. Static Routing, dibangun pada jaringan yang memiliki banyak gateway. jenis ini hanya memungkinkan untuk jaringan kecil dan stabil.
  2. Dinamic Routing, biasanya digunakan pada jaringan yang memiliki lebih dari satu rute. Dinamic routing memerlukan routing protocol untuk membuat tabel routing yang dapat memakan resource komputer
Tabel Routing

Router merekomendasikan tentang jalur yang digunakan untuk melewatkan paket berdasarkan informasi yang terdapat pada Tabel Routing.

Informasi yang terdapat pada tabel routing dapat diperoleh secara static routing melalui perantara administrator dengan cara mengisi tabel routing secara manual ataupun secara dynamic routing menggunakan protokol routing, dimana setiap router yang berhubungan akan saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat tujuan dan memelihara tabel routing.

Tabel Routing pada umumnya berisi informasi tentang:
  • Alamat Network Tujuan
  • Interface Router yang terdekat dengan network tujuan
  • Metric, yaitu sebuah nilai yang menunjukkan jarak untuk mencapai network tujuan. Metric tesebut menggunakan teknik berdasarkan jumlah lompatan (Hop Count).
Routed Protocol dan Routing Protocol

Routing Protocol maksudnya adalah protocol untuk merouting. Routing protocol digunakan oleh router-router untuk memelihara /meng-update isi routing table. Pada dasarnya sebuah routing protocol menentukan jalur (path) yang dilalui oleh sebuah paket melalui sebuah internetwork.
Contoh dari routing protocol adalah RIP, IGRP, EIGRP, dan OSPF.

Routed Protocol (protocol yang diroutingkan) maksudnya adalah protokol-protokol yang dapat dirutekan oleh sebuah router. Jadi protocol ini tidak digunakan untuk membuild routing tables, melainkan dipakai untuk addressing (pengalamatan). Karena digunakan untuk addressing, maka yang menggunakan routed protocol ini adalah end devices (laptop, mobile phone, desktop, mac, dll). router akan membaca informasi dari protocol ini sebagai dasar untuk memforward paket.
Contoh routed protocol adalah IP, NetbeUI, IPX, Apple Talk dan DECNet.

Posted by Unknown On Senin, Juni 03, 2013 No comments READ FULL POST

Kamis, 30 Mei 2013

Classless Inter-Domain Routing (CIDR) merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C.
Masalah yang terjadi pada sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut meninggalkan banyak sekali alamat IP yang tidak digunakan.

CIDR digunakan untuk mempermudah penulisan notasi subnet mask agar lebih ringkas dibandingkan penulisan notasi subnet mask yang sesungguhnya. Untuk penggunaan notasi alamat CIDR pada classfull address pada kelas A adalah /8 sampai dengan /15, kelas B adalah /16 sampai dengan /23, dan kelas C adalah /24 sampai dengan /28. Subnet mask CIDR /31 dan /32 tidak pernah ada dalam jaringan yang nyata.

nah, mungkin da yang bertanya, lalu apa perbedaan CIDR dan VLSM??

Menurut saya perbedaannya adalah ;
  • Tujuan CIDR: membuat routing table    lebih efisien dengan subnet yang sudah ada.
  • Tujuan VLSM: menggunakan blok alamat yang ada se-efisien mungkin.
  • CIDR dapat  mengalokasikan suatu alamat yang sudah disediakan oleh Internet kepada ISP high-level ke ISP mid-level sampai lower-level dan akhirnya ke jaringan suatu organisasi.
  • VLSM : Pembagian jaringan ini pada alamat yang sudah digunakan pada suatu organisasi dan tidak terlihat di Internet.
Posted by Unknown On Kamis, Mei 30, 2013 No comments READ FULL POST

Kamis, 23 Mei 2013

Dalam semua contoh sebelumnya subnetting, perhatikan bahwa subnet mask yang sama diterapkan untuk semua subnet. Ini berarti bahwa setiap subnet memiliki jumlah yang sama alamat host yang tersedia. Namun dalam banyak kasus, memiliki subnet mask yang sama untuk semua subnet akan membuang-buang ruang alamat. Misalnya, dalam Contoh Latihan subnetting, jaringan kelas C dipecah menjadi delapan subnet dengan ukuran yang sama, namun masing-masing subnet tidak memanfaatkan semua alamat host yang tersedia, yang menghasilkan ruang alamat terbuang. Gambar 4 mengilustrasikan ruang alamat terbuang.

Gambar 4


Gambar 4 mengilustrasikan bahwa dari subnet yang sedang digunakan, netA, netC, dan netD memiliki banyak ruang alamat host yang tidak terpakai. Ada kemungkinan bahwa ini adalah desain yang disengaja akuntansi untuk pertumbuhan di masa depan, tetapi dalam banyak kasus ini adalah ruang alamat hanya terbuang karena fakta bahwa subnet mask yang sama digunakan untuk semua subnet.

Variable Length Subnet Masks (VLSM) memungkinkan Anda untuk menggunakan masker yang berbeda untuk setiap subnet, sehingga menggunakan ruang alamat efisien.


netA: harus mendukung 14 host
netB: harus mendukung 28 host
netC: harus mendukung 2 host
netD: harus mendukung 7 host
netE: harus mendukung 28 host

Langkah 1;
Cara termudah dalam VLSM untuk menetapkan subnet adalah mengurutkan mulai dari kebutuhan host yang terbesar Misalnya, Anda dapat menetapkan dengan cara ini:

netB: 204.15.5.0/27 kisaran inang alamat 1 sampai 30
netE: 204.15.5.32/27 kisaran inang alamat 33-62
netA: 204.15.5.64/28 kisaran inang alamat 65-78
netD: 204.15.5.80/28 kisaran inang alamat 81-94
netC: 204.15.5.96/30 kisaran inang alamat 97-98

Sehingga hasilnya dapat direpresentasikan sebagai grafis ditunjukkan dalam Gambar 5:



Gambar 5


Gambar 5 menggambarkan bagaimana menggunakan VLSM membantu menyelamatkan lebih dari setengah dari ruang alamat.

Sumber :: Cisco.com
Posted by Unknown On Kamis, Mei 23, 2013 No comments READ FULL POST

Kamis, 16 Mei 2013

Diketahui jaringan Kelas C 204.15.5.0/24, subnet jaringan dalam rangka menciptakan jaringan pada Gambar 3 dengan persyaratan host ditampilkan.

Gambar 3


Melihat jaringan yang ditunjukkan pada Gambar 3, Anda dapat melihat bahwa Anda diminta untuk membuat lima subnet. Subnet terbesar harus mendukung 28 alamat host. Apakah ini mungkin dengan jaringan Kelas C? dan jika demikian, lalu bagaimana?

Anda dapat memulai dengan melihat kebutuhan subnet. Dalam rangka untuk menciptakan lima subnet yang dibutuhkan Anda akan perlu untuk menggunakan tiga bit dari Kelas C bit host. Dua bit hanya akan memungkinkan Anda empat subnet (22).

Karena Anda perlu tiga bit subnet, yang membuat Anda dengan lima bit untuk bagian host dari alamat. Berapa banyak host tidak mendukung ini? 25 = 32 (30 digunakan). Ini memenuhi persyaratan.

Oleh karena itu Anda telah menentukan bahwa adalah mungkin untuk membuat jaringan ini dengan jaringan Kelas C. Sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

netA : 204.15.5.0/27 kisaran inang alamat 1 sampai 30
netB : 204.15.5.32/27 kisaran inang alamat 33-62
netC : 204.15.5.64/27 kisaran inang alamat 65-94
netD : 204.15.5.96/27 kisaran inang alamat 97-126
netE : 204.15.5.128/27 kisaran inang alamat 129-158

Mudah bukan,,, :)

Sumber :: Cisco.com
Posted by Unknown On Kamis, Mei 16, 2013 No comments READ FULL POST

Kamis, 02 Mei 2013

Subnetting memungkinkan Anda untuk membuat beberapa jaringan logis yang ada dalam kelas A, B, atau C. Jika Anda tidak melakukan subnetting, maka Anda hanya dapat menggunakan satu jaringan dari Kelas A, B, atau C jaringan, yang tidak realistis.

Misalnya, diberi jaringan Kelas C 204.17.5.0 yang memiliki subnet mask default 255.255.255.0, Anda bisa membuat subnet dengan cara ini:

IP : 204.17.5.0 - 11001100.00010001.00000101.00000000
Subnet Mask : 255.255.255.224 - 11111111.11111111.11111111.11100000

Dengan memperluas masker menjadi 255.255.255.224, Anda telah mengambil tiga bit (ditandai dengan "sub") dari bagian host asli dari alamat dan menggunakannya untuk membuat subnet. Dengan tiga bit, adalah mungkin untuk menciptakan delapan subnet. Dengan lima tuan ID bit sisanya, masing-masing subnet dapat memiliki hingga 32 alamat host, 30 dari yang sebenarnya dapat diberikan ke perangkat karena host id semua nol atau semua yang tidak diperbolehkan (sangat penting untuk mengingat ini). Jadi, dengan ini dalam pikiran, subnet ini telah diciptakan.

204.17.5.0 255.255.255.224 kisaran inang alamat 1 sampai 30
204.17.5.32 255.255.255.224 kisaran inang alamat 33-62
204.17.5.64 255.255.255.224 kisaran inang alamat 65-94
204.17.5.96 255.255.255.224 kisaran inang alamat 97-126
204.17.5.128 255.255.255.224 kisaran inang alamat 129-158
204.17.5.160 255.255.255.224 kisaran inang alamat 161-190
204.17.5.192 255.255.255.224 kisaran inang alamat 193-222
204.17.5.224 255.255.255.224 kisaran inang alamat 225-254

Catatan: Ada dua cara untuk menunjukkan mask ini. Pertama, karena Anda menggunakan tiga bit lebih dari "alami" Kelas mask C, anda bisa menyatakan alamat-alamat ini sebagai memiliki subnet mask 3-bit. Atau, kedua, mask 255.255.255.224 juga dapat dinyatakan sebagai / 27 karena ada 27 bit yang diatur dalam mask. Metode kedua ini digunakan dengan CIDR. Dengan metode ini, salah satu jaringan ini dapat digambarkan dengan notasi prefix / length. Misalnya, 204.17.5.32/27 menunjukkan jaringan 204.17.5.32 255.255.255.224. Saat yang tepat notasi prefix / length digunakan untuk menunjukkan mask sepanjang sisa dokumen ini.

Jaringan subnetting skema di bagian ini memungkinkan untuk delapan subnet, dan jaringan mungkin muncul sebagai:


Perhatikan bahwa setiap router pada Gambar melekat pada empat subnetwork, satu subnetwork adalah umum untuk kedua router. Juga, setiap router memiliki alamat IP untuk setiap subnetwork yang terpasang. Setiap subnetwork berpotensi dapat mendukung hingga 30 alamat host.

Semakin banyak bit host yang Anda gunakan untuk subnet mask, semakin banyak subnet yang telah tersedia. Namun, semakin banyak subnet yang tersedia, semakin sedikit alamat host yang tersedia per subnet. Sebagai contoh, sebuah jaringan Kelas C 204.17.5.0 dari dan mask 255.255.255.224 (/ 27) memungkinkan Anda untuk memiliki delapan subnet, masing-masing dengan 32 alamat host (30 dari yang dapat ditugaskan untuk perangkat). Jika Anda menggunakan mask 255.255.255.240 (/ 28), istirahat turun adalah:

204.17.5.0 - 11001100.00010001.00000101.00000000
255.255.255.240 - 11111111.11111111.11111111.11110000

Karena Anda sekarang memiliki empat bit untuk membuat subnet, Anda hanya memiliki empat bit tersisa untuk alamat host. Jadi dalam hal ini Anda dapat memiliki hingga 16 subnet, masing-masing dapat memiliki hingga 16 alamat host (14 dari yang dapat ditugaskan untuk perangkat).

Lihatlah bagaimana sebuah jaringan Kelas B dapat di subnetted. Jika Anda memiliki jaringan 172.16.0.0, maka Anda tahu bahwa subnet mask default adalah 255.255.0.0 atau 172.16.0.0/16. Memperluas masker untuk apa pun di luar 255.255.0.0 berarti Anda telah melakukan subnetting. Anda dapat dengan cepat melihat bahwa Anda memiliki kemampuan untuk membuat subnet lebih banyak daripada dengan jaringan Kelas C. Jika Anda menggunakan mask 255.255.248.0 (/ 21), berapa banyak subnet dan host per subnet hal ini memungkinkan?

172.16.0.0 - 10101100.00010000.00000000.00000000
255.255.248.0 - 11111111.11111111.11111000.00000000

Anda menggunakan lima bit dari bit host asli untuk subnet. Hal ini memungkinkan Anda untuk memiliki 32 subnet (25). Setelah menggunakan lima bit untuk subnetting, Anda yang tersisa dengan 11 bit untuk alamat host. Hal ini memungkinkan setiap subnet sehingga memiliki 2048 alamat host (211), 2046 dari yang dapat ditugaskan untuk perangkat.

Sumber :: Cicco.com
Posted by Unknown On Kamis, Mei 02, 2013 No comments READ FULL POST

Kamis, 25 April 2013


Definisi
IP merupakan sebuah alamat host yang terdiri dari angka decimal 32 bit yang dipisahkan 3 titik tiap 8 bit nya, atau bisa dikatakan terdiri dari 4 oktet dan tiap oktetnya dipisahkan oleh titik. IP terdiri N (netid) dan H (host).
Contoh : 199.168.100.50 (N.N.N.H) (oktet1.oktet2.oktet3.oktet4)
N
N
N
H
199
168
100
50
Oktet 1
Oktet 2
Oktet 3
Oktet 4
Kelas IP
IP dibagi menjadi 4 berdasarkan kelas untuk memanagemant / mengetahui mana jaringan kecil dan mana jaringan yang besar
Kelas
Biner Oktet Awal
Dec Oktet Awal
N / H
Jumlah Netid
Jumlah Host
Golongan Jaringan
Contoh
A
0
0 - 126
N.H.H.H
126
16.277.214
Besar
10.10.10.100
B
10000000
128 - 191
N.N.H.H
16.384
65.543
Sedang
172.16.100.200
C
11000000
192 - 223
N.H.H.H
2.097.152
254
Kecil
192.168.200.254
D
11100000
224 - 149
Multicast
E
11110000
150 - 255
Reserved
Jenis IP
  1. IP dibedakan menjadi 2 yaitu :
    IP Privat adalah IP yang bisa digunakan hanya sebatas local area saja
alamat tersebut adalah :
    • Kelas A : 10.0.0.1 - 10.255.255.254
    • Kelas B : 172.16.0.1 - 172.31.255.254
    • Kelas C : 192.168.0.1 - 192.168.255.254
IP Public adalah IP yang dapat digunakan oleh khalayak umum (publik) sehingga bisa diakses dari manapun (internet)

Subnet Mask
Merupakan tehnik untuk mengambil bit dari field/oktet hostid agar terbentuk suatu alamat jaringan netid / subnetid.
Subnet mask sama seperti halnya IP yaitu terdiri dari 32 bit. Angka digit 1 (satu) pada subnet mask menunjukkan bahwa bit tersebut adalah bagian dari netid (alamat jaringan) sedangkan Angka digit 0 menunjukkan bagian hostid (alamat host)
Subnet Mask Default
Subnet mask harus diberikan saat sebuah jaringan / saat IP dikonfigurasikan, walaupun tidak ada subnetting yang dipergunakan. Subnet mask default adalah sebagai berikut
Kelas
Subnet Mask
Dalam Bentuk Biner
Jumlah bit
A
255.0.0.0
11111111.00000000.00000000.00000000
8 bit
B
255.255.0.0
11111111.11111111.00000000.00000000
16 bit
C
255.255.255.0
11111111.11111111.11111111.00000000
24 bit
Subnet mask ditentukan dengan memberikan nilai 1 pada bit yang bersesuaian dengan field / oktet Netid pada alamat kelas tersebut. contoh 255.0.0.0 adalah subnet mask yang salah bila digunakan untuk IP address kelas C. jadi kalau kita menggunakan IP kelas C, maka subnet mask yang kita gunakan adalah 255.255.255.0


Pembatasan Alamat IP
Beberapa alamat IP mempunyai penggunaan khusus yang sudah ditentukan fungsi-fungsinya dan tidak boleh digunakan sebagai IP address. IP yang mempunyai kegunaan khusus ini sebagian orang mengatakan sebagai IP spesial.
Adapun IP yang mempunyai kegunaan khusus ini adalah :
  • Netid dan hostid 0 (biner 00000000) difungsikan sebagai alamat jaringannya sendiri
  • Netid 127 (biner 01111111) digunakan sebagai IP Loopback. yang berfungsi memeriksa konfigurasi jaringan host. Paket atau pesan-pesan yang dikirimkan ke alamat ini tidak di kirim ke jaringan tatapi hanya dikembalikan lagi.
  • Hostid 255 semua binernya memiliki nilai 1 (11111111) difungsikan sebagai alamat broadcasting. yaitu bila suatu paket atau pesan dikirim ke alamat ini akan di kirimkan ke seluruh host dalam jaringan.
Syarat menentukan/konfigurasi IP pada komputer
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam mengkofigurasi IP, agar komputer tersebut bisa saling berkomunikasi :

  1. Jangan menggunakan IP Khusus seperti yang telah disebutkan diatas
    • Tidak boleh menggunakan netid / oktet pertama 0 (nol)
      Contoh : 0.10.10.200 atau 0.168.12.95
    • Tidak boleh menggunakan hostid / oktet terakhir 0 (nol)
      Contoh : 10.10.10.0 atau 192.168.12.0
    • Tidak boleh menggunakan IP loopback
      Contoh : 127.0.0.1 atau 127.100.10.10
    • Tidak boleh menggunakan hostid / oktet terakhir 255
      Contoh 192.168.255.255 atau 192.168.10.255 atau 10.10.10.255
  2. Jangan menggunakan IP yang sama dengan IP host lain
    Contoh : Komputer A IP nya 192.168.0.10 sedangkan Komputer B IP nya juga sama dengan IP Komputer A yaitu 192.168.0.10
  3. Jangan menggunakan nama komputer yang sama satu dengan yang lain
  4. Gunakan domain yang sama (untuk workgroup tidak harus sama)
  5. Bagi pemula sebaiknya gunakan subnet mask default
Sumber :: cisco.com
Posted by Unknown On Kamis, April 25, 2013 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Blogger news

    Blogroll

    About